Jumat, 13 September 2013

Petrologi BAB II



BAB II
BATUAN BEKU

2.1 Tinjauan Umum Batuan Beku
Batuan beku adalah merupakan kumpulan mineral-mineral silikat dari hasil penghabluran magma yang mendingin. (W.T. Huang, 1962). Penggolongan batuan beku dapat didasarkan kepada tiga patokan utama yaitu berdasarkan genetik batuan, berdasarkan senyawa kimia yang terkandung dan berdasarkan susunan mineralnya. Pembagian yang berdasarkan genetik atau tempat terjadinya dari batuan beku dapat dibagi atas batuan ekstrusi dan batuan intrusi. Batuan ekstrusi terdiri dari semua material yang dikeluarkan kepermukaan bumi baik di daratan maupun di bawah permukaan laut material ini mendingin dengan cepat, ada yang berbentuk padat atau suatu larutan yang kental dan panas yang disebut lava. Magma yang mencapai permukaan bumi melalui rekahan atau lubang kepundan gunung api sebagai erupsi, mendingin dengan cepat dan membeku menjadi batuan beku luar. Keluarnya magma dipermukaan bumi melalui rekahan dinamakan erupsi linear (fissure eruption), pada umumnya magma basaltic yang vikositasnya rendah, sehingga dapat mengalir disekitar rekahan, menjadi hamparan lava basalt. Sedangkan yang keluar melalui lubang kepundan dinamakan erupsi sentral.
Magma dapat mengalir melalui lereng, sebagai aliran lava atau tersembur ke atas bersama gas-gas sebagai piroklastik, atau rempah gunung api. Lava terdapat dalam berbagai bentuk dan jenis tergantung dari komposisi magmagnya dan tempat atau lingkungannya dimana pembekuan terjadi, apabila membeku dalam permukaan air terbentuklah lava bantal (pillow lava), sesuai dengan namanya bentuknya mirip dengan bantal.Batuan beku adalah yang terjadi akibat pembekuan larutan silika cair dan pijar, yang kita kenal dengan nama Magma. Penggolongan batuan beku dapat didasarkan kepada tiga patokan utama yaitu berdasarkan genetik batuan, berdasarkan senyawa kimia yang terkandung dan berdasarkan susunan mineraloginya.
Batuan beku adalah batuan yang terbentuk langsung dari pembekuan magma. Proses pembekuan tersebut merupakan proses perubahan fase dari cair menjadi padat. Pembekuan magma akan menghasilkan kristal-kristal mineral primer ataupun gelas. Proses pembekuan magma akan sangat berpengaruh terhadap tekstur dan struktur primer batuan sedangkan komposisi batuan sangat dipengaruhi oleh sifat magma sel.Pada saat penurunan suhu akan melewati tahapan perubahan fase cair ke padat. Apabila pada saat itu terdapat cukup energi pembentukan kristal maka akan terbentuk kristal-kristal mineral berukuran besar sedangkan bila energi pembentukan rendah akan terbentuk kristal yang berukuran halus. Bila pendinginan berlangsung sangat cepat maka kristal tidak terbentuk dan cairan magma membeku menjadi gelas.
DERET BOWEN






Gambar 2.1 Bowen Reaction Series
Pada batuan beku, mineral yang sering dijumpai dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu,Pembagian yang berdasarkan genetik atau tempat terjadinya dari batuan beku dapat dibagi atas : Batuan ekstrusi, terdiri dari semua material yang dikeluarkan kepermukaan bumi baik di daratan maupun di bawah permukaan laut material ini mendingin dengan cepat, ada yang berbentuk padat atau suatu larutan yang kental dan panas yang disebut lava. Magma yang mencapai permukaan bumi melalui rekahan atau lubang kepundan gunung api sebagai erupsi, mendingin dengan cepat dan membeku menjadi batuan beku luar. Keluarnya magma dipermukaan bumi melalui rekahan dinamakan erupsi linear (fissure eruption), pada umumnya magma basaltic yang vikositasnya rendah, sehingga dapat mengalir disekitar rekahan, menjadi hamparan lava basalt plateau basalt.Sedangkan yang keluar melalui lubang kepundan dinamakan erupsi sentral. Magma dapat mengalir melalui lereng, sebagai aliran lava atau tersembur ke atas bersama gas-gas sebagai piroklastik, atau rempah gunung api. Lava terdapat dalam berbagai bentuk dan jenis tergantung dari komposisi magmagnya dan tempat atau lingkungannya dimana pembekuan terjadi, apabila membeku dalam permukaan air terbentuklah lava bantal (pillow lava), sesuai dengan namanya bentuknya mirip dengan bantal.Batuan intrusi, proses batuan ini sangat berbeda dengan kegiatan batuan ekstrusi, dimana batuan ini sifatnya menerobos lapisan batuan yang sebelumnya telah terbentuk magma yang membeku dibawah permukaan, pendinginannya sangat lamban (dapat sampai jutaan tahun), memungkinkan munculnya kristal yang besar dan sempurna menjadi tubuh batuan intrusive. Tubuh batuan beku dalam mempunyai bentuk dan ukuran yang beragam, karena magma dapat menguak batuan di sekitarnya atau menerobos melalui rekahan. Tiga prinsip dari tipe bentuk intrusi batuan beku berdasarkan bentuk dasar dan geometri adalah :
v Bentuk yang tidak beraturan pada umunya berbentuk diskordan dan biasanya memiliki bentuk yang jelas di permukaan (batholit dan stock).
v Intrusi berbentuk tabular mempunyai dua bentuk yang berbeda yaitu yang mempunyai bentuk diskordan (dike) dan yang berbentuk konkordan (silt dan lakolit).
v Tipe ketiga dari tubuh intrusi relatif memiliki tubuh yang kecil. Bentuk khas dari grup ini adalah intrusi silinder atau pipa, sebagian besar sisa dari korok gunung api (vulcanik neck).
                                              
2.1.  Proses Pembentukan Batuan Beku
         Cairan atau larutan silikat pijar yang terbentuk secara ilmiah, bersifat mobile, bersuhu antara 9000-12000 atau lebih berasal dari kerak bumi bagian bawah atau selubung bumi bagian atas (vide F.F. GROUTS, 1947; TURNER dan VERHOOGEN, 1960;H. WILLIAM, 1962).
         Komposisi magma dikontrol oleh elemen-elemen yang dapat berlimpah di bumi yaitu Al, Fe, Ca, Mg, Na, K, H dan O. Karena anion O2-, maka umumnya komposisi magma diekspresikan dalam oksida seperti SiO2, Al2O3, CaO, dan H2O.
Berdasarkan analisa kimia dari sample batuan beku terdiri dari :
v Senyawa-senyawa yang bersifat non volatil dan merupakan unsur oksida dalam magma jumlahnya sekitar 99% dari seluruh isi magma sehingga merupakan mayor elemen, terdiri dari oksida SiO2, Al2O3, Fe2O3, FeO, MnO, CaO, Na2O, K2O, TiO2, P2O5.
v Senyawa volatil yang banyak pengaruhnya terhadap magma terdiri dari fraksi-fraksi gas CH4, CO2, HCl, H2S, SO2.
v Unsur-unsur lain yang disebut unsur jejak (trace element) dan merupakan minor elemen seperti Rb, Ba, Sr, Ni, CO, V, Li, Cr, S dan Pb.
Pendapat Bunsen 1951, vide W.T. Huang 1962, ada dua jenis magma primer yaitu basaltic dan granitic, dan batuan beku merupakan hasil campuran dari dua magma ini yang kemudian mempunyai komposisi lain.
Pendapat lain Dailly Winkler, 1933, Vide W.T. Huang 1962, yaitu magma asli (primer) adalah bersifat basa yang selanjutnya akan mengalami proses differensiasi magmatik akan menjadi magma bersifat lain.Magma basa bersifat lebih encer (vikositas rendah), kandungan unsur kimia berat, kadar H+, OH- dan gas tinggi. Sedangkan magma asam adalah sebaliknya.
         Sekurang kurangnya genesa batuan beku, vulkanik maupun plutonik harus ditinjau dari tiga segi :
1.    Faktor yang memberikan bagaimana dan dimana larutan yang bergenerasi didalam selubung atau pada kerak bumi bagian bawah.
2.    Kondisi yang berpengaruh terhadap larutan sewaktu naik kepermukaan.
3.    Proses-proses didekat permukaan yang menyempurnakan generasi.
         Magma yang berubah menjadi magma yang bersifat lain oleh proses sebagai berikut :
1.   Hibridasi : pembentukan magma baru karena percampuran dua magma yang berlainan jenisnya.
2.   Sinteksis : pembentukan magma baru karena proses asimilasi dengan batuan samping.
3.   Anateksis : proses pembentukan magma dari peleburan batuan pada kedalaman yang sangat besar
         Ada tiga cara megakibatkan perubahan-perubahan tersebut, yaitu : Diffrensiasi magma, asimilasi dan Proses pencampuran magma.
1.    Differensiasi Magma
         Merupakan suatu proses dimana yang homogen terpisah dalam fraksi-fraksi dengan komposisi yang berbeda-beda. Barth melakukan perubahan pada diagram yang dibuat oleh bowen, yang menunjukkan adanya reaksi yang pokok yaitu Discontinous series dan Continous series.
Temperatur
Seri Reaksi Tak Menerus Seri Reaksi Menerus
Jenis Batuan
Tinggi Awal Kristalisasi
 



















Rendah Akhir Kristalisasi


Olivin                                                      Anortit
 

                                                          Bitoenit
Piroksen
                                                           Labradorit

Amfibol                                                    Andesin
 

                                                           Oligoklas
Biotit
                                                           Albit
 

K-Felspar

Muskopit

Kuarsa

Ultra Mafik




Basa






Intermedier








Asam
Gambar 2.2 Seri Reaksi Bowen dan Jenis Batuan Beku yang Terbentuk

         Differensiasi magmatik meliputi semua proses yang mengubah magma dari keadaan awal yang homogen dalam skala besar menjadi masa batuan beku dengan komposisi yang berfariasi.Proses-proses diffrensiasi magma meliputi :
v Fragsinasi ialah pemisahan kristal dari larutan magma, karena proses kristalisasi berjalan tidak seimbang atau kristal-kristal pada waktunpendinginan magma tidak dapat mengikuti perkembangan. Komposisi larutan magma baru ini terjadi terutama karena adanya perubahan temperatur dan tekanan yang menyolok dan tiba-tiba. Proses fragsinasi ini merupakan proses diffrensiasi yang paling utama.
v Crystal setting atau gravitational adalah pengendapan kristal oleh gravitasi dari kristal–kristal berat Ca, Mg, Fe yang akan memperkaya magma pada bagian dasar waduk,disini mineral silikat berat akan terletak dibawah mineral silikat ringan.
v Liquid immisibility ialah larutan magma yang mempunyai suhu rendah akan pecah menjadi larutan yang masing-masing membentuk bahan yang heterogen.
v Crystal flotation adalah pengambangan mineral ringan dari sodium dan pottasium yang akan memperkaya magma pada bagian atas dari waduk magma.
v Vesculation adalah proses dimana magma yang mengandung komponen seperti CO2 ,SO2 ,SO2 dan H2O sewaktu naik ke permukaan membentuk gelembung gas dan membawa serta komponen volatil sodium Na dan potasium K.
v Disfussion ialah bercampurnya batuan batuan dinding dengan magma dalam waduk magma scara lateral.
2.    Assimilasi
          Evolusi magma dapat juga dipengaruhi oleh reaksi-reaksi dengan batuan sekitarnya (wall rock).Jika magma yang menerobos kepermukaan temperaturnya lebih tinggi dari pada temperatur batuan sekitarnya tersebut hingga mempengaruhi komposisi magma tersebut. Hal ini sering terjadi terutama pada magma plutonik karena letaknya yang jauh dari permukaan bumi.
3.    Proses pencampuran magma
          Maksudnya adalah dua batuan yang terbentuknya berbeda seperti batuanvulkanik dan batuan intrusi dangkal dapat juga dihasilkan dari campuran sebagian kristalin,yaitu kristalisasi magma. Contohnya adalah batuan basalt, andesit dan Rhyolit di Colorado dihasilkan dari pergantian erupsi yang cepat dari suatu lubang erupsi.



2.3  Bentuk Batuan Beku
         Mineral-mineral pertama yang terbentuk dari magma biasanya mineral yang anhidrous, pada temperatur tinggi yang hanya mengandung sedikit bahan-bahan atau unsur volatil. Mineral-mineral semacam ini disebut mineral-mineral pyrogenetik.
         Setelah pembentukan mineral-mineral tersebut maka sisa magma akan relatif kaya akan bahan-bahan volatil dan selanjutnya terbentuklah mineral Hidroksil. Mineral seperti mineral-mineral Amphibol dan Mika yang disebut Hydratogenetik.
         Tidak ada pembagian yang jelas akan konsolidasi dari magma.Banyak nama-nama yang masih di buat untuk tahapan pembekuan magma namun baru sedikit pengakuan pemakaian nama-nama tersebut.

2.4   Analisa Komposisi dan Mineral Batuan Beku
         Menurut Walter T. Huang, 1962, komposisi mineral dikelompokkan menjadi tiga kelompok mineral yaitu :
2.4.1 Mineral Utama
          Mineral-mineral ini terbentuk langsung dari kristalisasi magma, dan kehadirannya sangat menentukan dalam penamaan batuan. Berdasarkan warna dan densitas dikelompokkan menjadi dua yaitu :
1.Mineral Felsic(mineral bewarna terang dengan densitas rata-rata 2,5-2,7) yaitu :
-  Kuarsa (SiO2)
-  Kelompok feldspar,terdiri dari seri feldspar alkali (Kna) AlSi3O8 dan seri plagioklas, anorthoklas, adularia dan mikrolin. Seri plagioklas terdiri dari albit, oligoklas, andesit, labradoriot, bitownit dan labradorit.
2.Mineral mafic (mineral eromagnesia dengan warna gelap dan densitas rata-rata 3,0-3,6) yaitu :
-  Kelompok olivine terdiri dari fayalite dan forsterite.
-  Kelompok piroksen terdiri dari enstatit, hiperstein, augite, pigeonit, diopsid.
-  Kelompok mika terdiri dari biotit muscovite plogopite.
-  Kelompok ampibol terdiri dari anthofilit, cumingtonit, hornblende, rieberkit, tremolit, aktinolit, gluacofan.


2.4.2 Mineral Sekunder
          Merupakan mineral-mineral ubahan dari mineral utama, dapat dari hasil pelapkan, reaksi hidrotermal maupun hasil metamorfisme terhadap mineral utama. Dengan demikian mineral-mineral ini tak ada hubungannya dengan pembekuan magma (non pirogenetik).
Mineral sekunder terdiri dari :
-   Kelompok kalsit dapat terbentuk dari hasil ubahan mineral plagioklas, terdiri dari kalsit, dolomite, magnesit dan siderite.
-   Kelompok serpentin umumnya terbentuk dari hasil ubahan mineral mafic (terutama kelompok olivine dan piroksin) termasuk di dalamnya adalah antigorit dan krisotil.
-   Kelompok klorit umumnya terbentuk dari hasil ubahan mineral kelompok plagioklas termasuk didalamnya roklor, penin, dan talk.
-   Kelompok serisit (brittle mica sebagai ubahan mineral plagioklas).
-   Kelompok kaolin umumnya ditemukan sebagai hasil pelapukan batuan beku, termasuk didalamnya adalah kaolin dan hallosite.

2.4.3 Mineral Tambahan (Accessory Minerals)
          Merupakan mineral-mineral yang terbentuk pada kristalisasi magma umunya dalam jumlah sedikit, walaupun kehadirannya cukup banyak tidak mempengaruhi penamaan batuan. Yang termasuk dalam batuan ini antara lain : hematite, kromit, spene, muscovite, rutile, magnetit, zeolit dan apatit.

2.5  Identifikasi Tekstur
         Tekstur dalam batuan beku dapat diterangkan sebagai hubungan antar massa mineral dengan massa gelas yang membentuk massa yang merata dari batuan. Selama pembentukan tekstur tergantung pada kecepatan dan orde kristalisasi.Dimana keduanya sangat tergantung pada temperatur, komposisi, kandungan gas, viskositas magma dan tekanan. Dengan demikian tekstur merupakan fungsi dari sejarah pembentukan suatu batuan beku. Dalam hal ini tekstur menunjukkan derajat kristalisasi (degree of crystallinity),ukuran butir (grain size) atau granularitas dan kemas (fabric), atau hubungan antar unsur-unsur tersebut (W. T. Huang 1962; William 1982). Derajat kristalisasi dan granularitas dipengaruhi oleh komposisi kimia magma dalam hal ini akan mempengaruhi viskositas, kecepatan pendinginan dan kedalaman sebagai fungsi tekanan. Magma dengan viskositas rendah dibawah tekanan tinggi, maka kristalnya akan tumbuh dengan baik dansebaliknya untuk magma derajat viskositas tinggi dekat dengan permukaan. Dalam hal ini batuan holokristalin dengan ukuran butir sedang hingga kasar merupakan ciri untuk batuan plutonik sedangkan untuk batuan kristalin halus, afanitik dan gelasan, terbentuknya sebagai akibat pendinginan yang cepat dan viskositas magmanya tinggi, yang khas terjadi pada magma ekstrusi dan intrusi dangkal.

2.5.1 Derajat Kristalisasi
          Derajat kristalisasi merupakan keadaan proporsi antara massa kristal dan massa gelas dalam batuan beku. Dikenal tiga kelas derajat kristalisasi yaitu :
1.    Holokristalin, apabila batuan disusun oleh seluruhnya kristal.
2.    Hipokristalin atau merokristalin atau mesokristalin, apabila batuan disusun oleh  sebagian kristal dan sebagian gelas.
3.    Holohialin atau hipohialin atau merohialin, apabila batuan disusun oleh seluruhnya gelas. 

2.5.2   Granularitas
          Granularitas merupakan ukuran butir kristal dalam batuan beku dapat sangat halus yang tidak dapat dikenal meskipun menggunakan mikroskop, tetapi dapat pula sangat kasar. Umumnya dikenal dengan dua kelompok tekstur ukuran butir yaitu fanerik dan afanitik.
Fanerik, apabila batuan mempunyai ukuran butir kasar, dibedakan atas :
-   Fanerik sangat kasar, apabila diameter berukuran > 3 cm.
-   Fanerik kasar, apabila diameter berukuran 5 mm – 3 cm.
-   Fanerik sedang, apabila diameter berukuran 1 mm – 5 mm.
-   Fanerik halus, apabila diameter berukuran < 1 mm.
-   Afanitik, apabila ukuran butir individu kristal sangat halus sehingga tidak dapat  dibedakan dengan mata telanjang. Batuan dengan tekstur afanitik dapat tersusun atas massa kristal. Massa gelas atau keduanya. Selain itu dikenal pula istilah mikrokristalin dan kriptokristalin. Disebut kristalin apabila tidak dikenal dengan menggunakan mikroskop disebut kriptokristalin. 

2.5.3 Kemas
          Merupakan tekstur yang memperlihatkan hubungan geometri antara bentuk dan proporsi butir-butir penyusun batuan.
Secara dua dimensi bentuk butir mineral dibagi atas :
a.    Euhedral, apabila mineral dibatasi oleh bidang atau bentuk kristal yang sempurna.
b.    Subhedral, apabila mineral dibatasi oleh sebagian bidang atau bentuk kristalnya.
c.    Anhedral, apabila mineral tidak dibatasi oleh bidang atau bentuk kristalnya.
Secara tiga dimensi dikenal :
a.    Equidimensional, apabila bentuk kristal dimensinya sama panjang.
b.    Tabular, apabila bentuk kristal dua dimensi lebih panjang dari satu dimensi lain.
c.    Iregular, apabila bentuk kristal tidak teratur.
          Sedangkan kemas (fabric) atau hubungan antara kristal satu dengan yang lain dalam suatu batuan dari segi ukuran adalah :
a.    Equigranular, bila batuan disusun oleh butiran mineral yang ralatif seragam, dibadakan atas :
-   Panidiamorfik granular, apabila batuan disusun oleh mineral berbentuk euhedral dan ukuran butir relatif seragam. Bentuk butir subhedral merupakan perinci mineral yang berbentuk paling awal, hal ini dimungkinkan mengigat ruangan yang tersedia masih sangat luas sehingga mineral-mineral tersebut sempat membentuk kristal secara sempurna.
-   Hipidiamorfik granular, apabila batuan disusun oleh mineral yang berbentuk subhedral dan ukuran butir relatif seragam. Bentuk butiran penyusun subhedral atau kurang sempurna yang merupakan penciri bahwa pada saat mineral terbentuk, maka rongga atau ruangan yang tersedia sudah tidak memadai untuk dapat membentuk kristal secara sempurna.
-   Allotriamorfik granular, apabila batuan disusun oleh mineral yang berbentuk anhedral atau tidak beraturan sama sekali merupakan pertanda bahwa pada  saja, sehingga dapatlah ditafsirkan bahwa mineral-mineral anhedral tersebut terbentuk paling akhir dari rangkaian proses pembentukan batuan beku.
b.    Inequigranular, apabila batuan disusun oleh butiran-butiran mineral yang relatif tidak seragam seperti :
-   Porfiritik, apabila kristal dengan mineral yang berukuran besar (fenokris) tertanam dalam masa dasar (matruk) kristal-kristal yang berukuran lebih halus.
-   Vitroveri, seperti tekstur porfiritik, tetapi masa dasarnya berupa gelas.
-   Porfiro afanitik, apabila fenokris tertanam dalam massa afanitik.
-   Felsoferik, apabila fenoriks tertanam dalam massa dasar berupa pertumbuhan bersama (intergrowth) antara feldspar dengan kuarsa.
       Tekstur khusus adalah tekstur disamping menunjukkan hubungan antara bentuk dan ukuran butir juga ada menunjukkan arah serta menunjukkan pertumbuhan bersama antar mineral-mineral yang berbeda. Tetapi tekstur ini sangat sulit diamati secara megaskopis, terdiri dari:
-   Diabasik, tekstur yang khas pada batuan diabas dimana fenokris plagioklas hadir secara radial.
-   Trakhitik, tekstur dimana fenoriks atau mikrolit alkali feldspar menunjukkan pola searah atau kesejajaran.
-   Intergranular, tekstur dimana ruang antar kristal-kristal plagioklas ditempati oleh kristal-kristal piroksen, olivin atau biji besi.
-   Intersentral, hampir sama dengan intergranular hanya disini ruang antar plagioklas diisi oleh massa gelas, kriptokristalin atau mineral-mineral sekunder dan mineral tambahan.
-   Hialopilitik, sama dengan trakhitik hanya disini ruang antar plagioklas diisi oleh massa gelas.
-   Grafik, tekstur yang umum pada batuan granites dimana kuarsa tumbuh bersama  dengan K-feldspar.
-   Ofitik, tekstur dimana mineral berukuran besar diinklusi oleh mineral yang berukuran lebih kecil.
-   Poikilitik, tekstur dimana suatu kristal besar menginklusi mineral-mineral lain yang lebih kecil.
-   Pertite, tekstur dimana alkali feldspar tumbuh bersama dengan plagioklas dalam hal ini alkali feldspar berkembang lebih besar.
-   Antipertite, hampir sama dengan pertite hampir sama persis hanya disini plagioklas berkembang lebih besar.
-   Mikmetik, tekstur dimana kuarsa yang berbentuk menjari di inklusi oleh plagioklas asam biasanya oligoklas.
       Kemas terutama di pengaruhi oleh kinetik pengintian, pertumbuhan kristal dan kronologis pengkristalan. Rusenbusch (Vide H. William, 1982) mengelompokkan tiga keadaan tentang orde kristalisasi yaitu :
-   Bila suatu butir mineral mengingklusi butir mineral lain, maka mineral yang diinklusi adalah terbentuk lebih dahulu.
-   Dua macam kristal yang berbeda dalam ukurannya yang terkecil adalah terbentuk kemudian.
-   Kristal yang terbentuk terlebih dahulu, cenderung euhedral, sedangkan yang terbentuk kemudian cendrung subhedral atau anhedral.

2.6     Bentuk Struktur Batuan Beku
         Struktur batuan beku adalah bentuk batuan beku dalam skala yang besar seperti lava bantal yang terbentuk dilingkungan air (laut), lava bongkah, struktur aliran dan lain-lain. Suatu bentuk struktur batuan sangat erat sekali dengan waktu terbentuknya. Jenis-jenis struktur batuan beku adalah :
a.    Massiv, apabila tidak menunjukkan adanya sifat aliran atau jejak gas, atau tidak menunjukkan adanya fragmen batuan lain yang tertanam dalam tubuhnya.
b.    Pillow lava atau lava bantal, merupakan struktur yang dinyatakan pada batuan ekstruksi tertentu, yang dicirikan oleh massa berbentuk bantal, dimana ukuran dari bentuk ini umumnya antara 30 - 60 cm dan jaraknya berdekatan, khas pada vulkanik bawah laut.
c.    Join, struktur yang ditandai adanya kekar – kekar yang tersusun secara teratur tegak lurus arah aliran. Struktur ini dapat berkembang menjadi “columnar jointing”.
d.   Struktur rongga dibedakan atas :
-  Scoria, struktur dimana terdapatnya lubang – lubang gas yang tidak teratur.
-  Amikdoloida,  struktur dimana lubang keluarnya gas diisi oleh mineral – mineral sekunder seperti biotit, karbonat dan bermacam silika.
-  Xenolit,  struktur yang memperlihatkan adanya suatu fragmen batuan yang masuk atau tertanam dalam batuan beku. Struktur ini terbentuk sebagai akibat peleburan tidak sempurna dari suatu batuan samping di dalam magma yang menerobos.
-  Autobreccia, struktur yang terlihat pada lava yang memperlihatkan   fragmen fragmen dari lava itu sendiri.
-  Pillow lava atau lava bantal, yaitu struktur paling khas dari batuan vulkanik bawah laut, membentuk struktur seperti bantal.
-  Joint struktur, merupakan struktur yang ditandai adanya kekar-kekar yang tersusun secara teratur tegak lurus arah aliran.
-  Masif, yaitu apabila tidak menunjukkan adanya sifat aliran, jejak gas (tidak menunjukkan adanya lubang-lubang) dan tidak menunjukkan adanya fragmen lain yang tertanam dalam tubuh batuan beku.
-  Vesikuler, yaitu struktur yang berlubang-lubang yang disebabkan oleh keluarnya gas pada waktu pembekuan magma. Lubang-lubang tersebut menunjukkan arah yang teratur.

2.7 Klasifikasi Batuan Beku
Klasifikasi batuan beku dilakukan agar dapat memudahkan kita untuk dapat membedakan jenis batuan beku yang terdapat di alam.
2.7.1 Klasifikasi Batuan Beku Berdasarkan Kimiawi
Klasifikasi batuan beku berdasarkan kimiawinya dapa dilihat dari kandungan SiO2-nya. Berdasarkan atas itu, batuan beku dapat diklasifikasikan atas :
v   Batuan beku asam
          Batuan beku diklasifikasikan sebagai batuan beku asam apabila batuan beku tersebut memiliki kandungan SiO2 lebih besar dari 66 % (> 66 %).Batuan beku asam tersusun atas mineral kwarsa, orthoklast, palgioklast Na, terkadang terdapat biotit, muskovit dalam jumlah yang sangat kecil. Batuan beku asam umumnya akan berwarna cerah apabila kelimpahan mineral kwarsa dan orthoklast di dalam batuannya. Contoh dari batuan ini adalah granite, riolite, granudiorite.
v   Batuan beku intermedier
   Batuan beku intermedier mengandung SiO2 antara 52 % - 66 %, terutama  tersusun oleh mineral plagioklast, hornblende, dan kwarsa.Sedangkan biotit dan orthoklast dalam jumlah kecil.Warna dari batuan ini juga masih cerah, tetapi tidak secerah dari batuan beku asam.Contohnya adalah andesit, diorite, syeanite.
v   Batuan beku basa
          Batuan beku basa mengandung  45 % - 52 % SiO2.batuan ini tersusun dari magma asal yang bersifat basa. Warna dari batuan beku ini akan terlihat lebih gelap, karena mineral-mineral mafik sudah sangat jarang terbentuk pada batuan golongan ini. Batuan beku basa terdiri dari mineral-mineral seperti olivine, plagioklast Ca, dan hornblende.Contoh batuannya adalah gabro, basalt, dan diabas.
v   Batuan beku ultra basa
Pada batuan ini kandungan SiO2 lebih kecil dari 45 % (< 45 %).Warna batuan ini gelap, lebih gelap dari batu beku basa.Batuan ini tersusun oleh mineral-mineral olivine, piroksine, serpentine.Hanya satu atau dua macam mineral saja yang hadir pada suatu batuan.Mineral lain yang mungkin hadir adalah plagioklast Ca dalam jumlah yang kecil.Contoh batuannya adalah dunit, piroksinite, peridotite, serpentinite.

2.7.2 KlasifikasiBatuan BekuBerdasarkan Tempat Terjadinya.
Klasifikasi batuan beku bedasarkan tempat terjadinya dibedakan atas :
v Batuan beku plutonik, yaitu batuan beku yang terbentuk di dalam       permukaan.Secara umum, magma yang dihasilkan jauh di dalam bumi mulai meningkat karena mereka kurang padat dari batuan padat di sekitarnya.Ketika mereka naik mereka mungkin mengalami kedalaman atau tekanan dimana gas terlarut tidak lagi dapat diselenggarakan dalam larutan dalam magma, dan gas mulai membentuk fase terpisah (yakni membuat gelembung seperti di botol minuman berkarbonasi ketika tekanan adalah dikurangi).















Gambar 2.3. Klasifikasi Batuan Beku Plutonik
 (Streckeisen, 1974)

v  Batuan beku vulkanik, yaitu batuan beku yang terbentuk di atas permukaan.
umumnya tubuh intrusif jauh lebih besar yang telah diterobos jauh lebih dalam di kerak. Meskipun mereka mungkin menunjukkan kontak yang tajam dengan batuan sekitarnya di mana mereka diterobos, pada tingkat yang lebih dalam di kerak kontak sering bergradasi.
















Gambar 2.4 Klasifikasi Batuan Beku Vulkanik
2.7.3  Klasifikasi Batuan Beku Berdasarkan Mineralogi
 Klasifikasi batuan beku berdasarkan mineraloginya yaitu berdasarkan mineral mineral yang terkandung dalam batuan tersebut.








         


           








                Gambar 2.5 Klasifikasi Batuan Beku Berdasarkan Mineralogi

2.7.4  Klasifikasi Batuan Beku Berdasarkan W.T.HUANG,1962
Menurut Walker T. Huang, 1962, komposisi mineral dikelompokkan menjadi 3 kelompok mineral yaitu :
a.    Mineral Utama
Mineral-mineral ini terbentuk langsung dari kristalisasi magma dan kehadirannya sangat menentukan dalam penamaan batuan. Berdasarkan warna dan densitas, dikelompokkan menjadi dua yaitu :
v Mineral Felsic (mineral berwarna terang dengan densitas rata – rata 2,5 – 2,7), yaitu : - Kuarsa (SiO2)
-       Kelompok Feldspar, terdiri dari feldspar alkali (K, Na) AlSi3O8.
Seri feldspar alkali terdiri dari Sanidin, orthoklas, anorthoklas, adulari dan mikrolin. Seri plagioklas terdiri dari albit, oligoklas, andesit, labradorit, bitownit dan anortit.
-       Kelompok Feldspartoid (Na K Alumina Silika), terdiri dari nefelin,
sodalit, leusit.
v Mineral Mafik (mineral – mineral feromagnesia dengan warna gelap dan densitas rata – rata 3,0 – 3,6), yaitu :
-        Kelompok Olivin, terdiri dari Fayalite dan Forsterite
-        Kelompok Piriksen, terdiri dari Enstite, Hiperstein, Augit, Pigeonit, Diopsit
-        Kelompok mika, terdiri dari Biotit, Muscovit, plogopit.
-       Kelompok Amphibole, terdiri dari Anthofilit, Cumingtonit, Hornblende, Rieberkit, Tremolit, Aktinolite, Glaukofan, dan lain-lain.

b.    Mineral Sekunder
Merupakan mineral – mineral ubahan dari mineral – minerak utama, dapat dari hasil pelapukan, hidrotermal, maupun metamorfisma terhadap mineral – mineral utama.Dengan demikian mineral –minerak ini tidak ada hubungannya dengan pembekuan magma (non pirogenetik). Mineral sekunder terdiri dari :
-       Kelompok Kalsit (kalsit, dolomit, magnesit, siderit), dapat terbentuk dari hasil ubahan mineral plagioklas.
-       Kelompok Serpentin (antigorit dan Krisotit), umumnya terbentuk dari hasil ubahan mineral mafik (terutama kelompok olivin dan piriksin).
-       Kelompok     klorit  (prokton, penin, talk), umumnya terbentuk dari hasil ubahan mineral kelompok plagioklas.
-        Kelompok serisit sebagai ubahan mineral plagioklas.
-       Kelompok kaolin (kaolin, hallosyte), umumnya ditemukan sebagai hasil pelapukan batuan beku.


c.  Mineral Tambahan (Assesory Mineral)
Merupakan mineral – mineral yang terbentuk pada kristalisasi magma, umumnya dalam jumlah sedikit.Apabila hadir dalam jumlah yang cukup banyak tetap tidak mempengaruhi penamaan batuan, tetapi hal ini bisa mampunyai nilai ekonomis. Termasuk dalam golongan ini antara lain : Hematite, Muscovite, Rutile, Magnetit, Zeolit, Apatit dan lain – lain.

2.8  Tahap Penamaan Batuan Beku
Dengan mengamati kehadiran mineral kuarsa bebas serta menghitung proporsi secara relatif dalam batuan. Jika kuarsa hadir dan mencapai 10 % atau lebih, maka jenis batuan adalah batuan beku asam. Batuan beku intermedier dicirikan dengan orthoklas dan plagioklas asam relatif lebih cerah dibandingkan dengan plagioklas basa. Tetapi pada kenyataaannya secara megaskopis kita sulit untuk membedakan dengan mata kasar.
Setelah jenis batuan telah diketahui, untuk menentukan nama batuan lebih dahulu harus menentukan kelompok batuannya yaitu membandingkan kehadiran dan proporsi antara alkali feldspar dengan plagioklas serta mineral utama lainnya. Kelompok telah diketahui, untuk mengetahui nama batuannya tinggal mengetahui relasinnya.

2.8.1    Tahap Penamaan Batuan Beku Asam
Penamaan batuan adalah salah satu dari tujuan kita dari praktikum batuan beku ini, berikut ini adalah tahap-tahap cara  untuk pemerian nama pada batuan beku asam , antara lain:
-   Jika kuarsa hadir dan mencapai 10% atau lebih maka jenis batuan adalah batuan beku asam.
-   Warna terang dengan ukuran butir fanerik (kasar) berukuran 5mm – 3cm, dengan contoh batuan Granit, Adamelit dan Granodiorit.
-   Juga ada yang berbutiran afanitik (halus) berukuran < 1mm dengan contoh batuan Dasit, Rio – dasit dan Riolit.
-   Komposisi mineral umumnya mengandung mineral biotit, kuarsa, plagioklas asam dan orthoklas dengan komposisi mineral yang dominan hadir adalah plagioklas asam dengan kuarsa yang termasuk golongan silika (SiO2) dengan presentase > 66% dalam batuan.
-   Dengan mengamati kehadiran mineral kuarsa bebas serta menghitung proporsi secara relatif didalam batuan.
-   Setelah jenis batuan telah diketahui, untuk menentukan nama batuan terlebih dahulu harus diketahui kelompok batuannya, yaitu dengan membandingkan kehadiran antara alkali feldspar dengan plagioklas serta mineral utama yang lainnya.

2.8.2    Tahap Penamaan Batuan Beku Intermedier.
Penamaan batuan adalah salah satu dari tujuan kita dari praktikum batuan beku ini, berikut ini adalah tahap-tahap cara  untuk pemerian nama pada batuan beku intermedier, antara lain:
-   Jika kuarsa kurang dari 10%, maka jenis batuannya intermedier.
-   Warna relatif terang jika dibandingkan dengan batuan basa dengan ukuran butir fanerik (kasar) berukuran 5mm – 3cm, dengan contoh batuan Diorit, Monsonit dan Syenit.
-   Juga ada yang berbutiran afanitik (sedang) berukuran < 1mm dengan contoh batuan Andesit, Andesit – trakhit, dan Trakhit.Berdasarkan komposisi mineral, batuan jenis ini mengandung mineral silika dengan komposisi sebesar 52 – 66%.
-   Batuan intermedier dicirikan dengan melimpahnya orthoklas dan plagioklas asam, dimana plagioklas asam relatif lebih cerah dibandingkan dengan plagioklas basa, walaupun dalam kenyataan mikroskopis kita sulit membedakannya.
-   Setelah jenis batuan telah diketahui, untuk menentukan nama batuan terlebih dahulu harus menentukan kelompok batuannya, yaitu dengan membandingkan kehadiran proporsi antara alkali feldspar dengan plagioklas serta mineral utama lainnya.
-   Setelah kelompok diketahui, maka untuk mengetahui nama batuannya kita tinggal mengetahui relasinya dari batuannya.



2.8.3    Tahap Penamaan Batuan Beku Basa.
Penamaan batuan adalah salah satu dari tujuan kita dari praktikum batuan beku ini, berikut ini adalah tahap-tahap cara  untuk pemerian nama pada batuan beku basa, antara lain:
-   Dilihat secara megaskopis batuan beku basa ini bewarna gelap dengan ukuran butir fanerik (kasar) dengan ukuran > 3cm, contoh batuannya Gabro.
-   Juga ada yang berukuran afanitik (halus) dengan ukuran 1mm – 5mm, contoh batuannya basalt.
-   Mineral – mineral yang dominan muncul, yaitu mineral – mineral mafic dan olivin adalah mineral yang mencirikan bahwa batuan beku ini adalah batuan beku basa.
-   Untuk menentukan kelompok batuan kita dapat melihat berdasarkan kandungan silikanya, jika mengandung 45% sampai 52% SiO2, maka batuan tersebut dapat dikelompokkan dalam batuan beku basa.
-   Setelah kelompoknya diketahui maka untuk mengetahui nama batuannya kita tinggal mengetahui relasinya.

2.8.4    Tahap Penamaan Batuan Beku Ultra Basa.
Penamaan batuan adalah salah satu dari tujuan kita dari praktikum batuan beku ini, berikut ini adalah tahap-tahap cara  untuk pemerian nama pada batuan beku ultra basa, antara lain:
-   Untuk menentukan kelompok batuannya dapat diketahui berdasarkan komposisi silika (SiO2), jika mengandung kurang dari 45% SiO2, maka batuan beku ini termasuk kedalam kelompok batuan beku ultra basa.
-   Warna batuannya umumnya gelap jika dibandingkan dengan jenis batuan yang lain dengan semua ukuran fanerik karena terbentuk jauh di dalam permukaan bumi sehingga kristalisasinya sempurna.
-   Berdasarkan mineral – mineral mafic yang terkandung dalam batuan ini kaya akan unsur logam seperti Serpentin, Olivin, Piroksin yang sering muncul pada batuan beku ultra basa.
-   Setelah kita mengetahui kelompok batuannya dengan menggunakan  W. T. Huang 1962, maka kita menentukan nama batuan dengan mengetahui relasi batuan tersebut.
2.9 Kegunaan Batuan Beku
Tak semua batuan beku mempunyai nilai ekonomis, hal ini tergantung
pada sifa, komposisi mineral, kekeutan fisik, daya tahan, cara penggalianya, dan
lain-lain.
Tiap jenis mineral mempunyai sifat dan komposisi mineral tertentu, tidak
semua jenis batuan dapat digunakan untuk semua jenis pekerjaan. batuan
mempunyai kegunaan sendiri tergantung sifatnya, misalnya :
1.  Batuan yang mempunyai kerapatan tinggi dan tidak poros sangat baik
untuk keperluan pekerjaan di laut
2.  Batuan yang tidak terpengaruh oleh asam, baik untuk digunakan didaerah
industri
3.  Batuan yang berat, keras, dan mempunyai daya tahan yang besar sesuai
untuk digunakan sebagai fondasi bangunan pengeras jalan juga bahan
lantai
4.  Batuan yang berwarna indah dan tidak porus dapat digunakan untuk
pelapis dinding atau lantai
5.  Batuan yang umumnya mempunyai berat jenis ± 2,6, baik untuk
digunakan sebagai bahan pekerjaan teknik berat.


                                                                              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar